08121026237 - 081280589457   679B873

Ratusan Warga Sipil Suria Tewas di Bombardir Pasukan Militer Pro Presiden Assad

 Oleh : Mochtar Siahaan | Jumat, 09 Februari 2018 - 15.23 WIB | Dibaca : 134 kali
Ratusan Warga Sipil Suria Tewas di Bombardir Pasukan Militer Pro Presiden Assad
Para korban perang saudara itu, diantaranya 58 orang anak-anak dan 41 wanita.

 

Sondinews. Dalam empat hari terakhir ini, lebih 220 orang warga sipil tewas dan sekitar 700 orang menderita luka-luka akibat serangan udara membabi buta yang dilakukan oleh pasukan militer pro Presiden Assad di wilayah Ghouta Timur, Suria. Korban tewas 58 orang anak-anak dan 41 orang wanita, kata dokter Hamza yang mengaku kewalahan merawat korban luka-luka yang dikirim ke Klinik Erbin di Ghouta Timur, di wilayah berpenduduk 400.000 jiwa itu, demikian disiarkan kantor berita AFP, Jumat 9 Pebruari 2018.

Militer pro Presiden Assad itu, dalam upayanya mengambil alih wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak, sejak tahun 2017 sangat gencar melakukan serangan- serangan udara. Pasukan militer pro Assad, itu sepertinya tidak memikirkan keselamatan warga sipil yang tidak terlibat pemberontakan.

Selama empat hari pesawat-pesawat tempur terus membonbardir wilayah Ghouta Timur, yang sejak tahun 2011 dikuasai kelompok pemberontak. Pada Kamis 8 Pebruari 2018, 75 orang warga sipil tewas dan ratusan luka-luka  akibat serangan udara.

Wilayah yang dikuasai pemberontak itu, selama empat tahun terakhir ini telah dikepung pasukan pro Assad sehingga penduduk disana sangat menderita karena kekurangan pasukan makanan, belum lagi akibat tekanan kelompok pemberontak. Bagi warga sipil Ghouta Timur tidak ada jalan keluar. Ketika mereka hendak mengungsi, dilarang kelompok pemberontah, selain itu takut menjadi sasaran tembakan pasukan militer pro Assad.

Situasinya kini sangat mencekam. Anak-Anak, kaum wanita dan guru-guru ketakutan , karena kapan saja mereka bisa menjadi sasaran peluru. Pengepungan yang dilakukan militer Suria berarti tidak ada lagi jalan bagi penduduk Ghouta Timur untuk melarikan diri, kata Sonia  Khush, Direktur Respons Surya untuk Organisasi Save The Children.

Harus ada segera penghentian peperangan dan penghentian pengepungan. Akan tetapi, kenyataannya justru pengepungan semakin diperkuat, demikian juga serangan udara semakin gencar ke wilayah yang dekat dengan Damaskus, Ibukota Negara Suria itu.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan beberapa waktu lalu mengatakan, dirinya menolak keras seruan pemimpin oposisi utama Turki untuk menjalin kontak dan berbicara dengan Presiden Suryah, Bashar al Assad untuk menghentikan konflik di Suriah.

“Apa yang akan kita bicarakan dengan seorang pembunuh yang telah membunuh 1 juta warganya” , ujar Erdogan menanggapi saran Kemanl Kilicdaroglu, Kepala Republican People’s Party ( partai oposisi utama di Turki ).

KOMENTAR ANDA