08121026237 - 081280589457   679B873

Personil Gabungan TNI dan Polri Amankan Demo Buruh di Depan Istana

 Oleh : Mochtar Siahaan | Selasa, 06 Februari 2018 - 14.46 WIB | Dibaca : 159 kali
Personil Gabungan TNI dan Polri Amankan Demo Buruh di Depan Istana
Dari surat pemberitahuan kepolisian aksi demo dalam rangkaian Peringatan HUT FSPMI ke- 19 di Istana Negara dan Balaikota Jakarta itu akan menurunkan 12 ribu massa.

 

Sondinews.  -  Personil gabungan TNI dan Polri disiagakan untuk mengamankan jalannya demo serikat buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di depan Istana Kepresidenan, Selasa (6/2/2018).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, dari surat pemberitahuan kepolisian aksi demo dalam rangkaian Peringatan HUT FSPMI ke- 19 di Istana Negara dan Balaikota Jakarta itu akan menurunkan 12 ribu massa. “Kami telah melakukan TWG (Tactical Wall Game) dilanjutkan apel pengamanan.

Rencananya aksi pukul 09.00 WIB, namun hingga saat ini peserta aksi belum tiba,” kata Kombes Pol Argo.

Sekjen KSPI, M. Rusdi mengatakan, aksi tak dapat dilaksanakan sesuai jadwal yang ditentukan karena alasan gangguan lalulintas. “Kami harusnya mulai jam 11.00. Tapi ini macet sekali jalanannya,” ujar Rusdi.

Rencananya aksi unjukrasa akan dilakukan serentak di berbagai kota, seperti Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, Batam, Yogjakarta, Aceh, Bengkulu, Lampung, Makassar, Gorotanlo, Manado, dan Bajarmasin.

Menurut Presiden KSPI Said Iqbal, aksi 6 Februari nanti terkait melambungnya harga beras dan terus naiknya tarif dasar listrik yang mengakibatkan turunnya daya beli buruh.

Iqbal menyampaikan, akan ada tiga tuntutan yang dibawa para buruh. Tuntutan tersebut terkait penurunan harga beras dan listrik, menolak upah murah, dan memilih pemimpin yang pro terhadap nasib buruh.

Tuntutan tersebut diharapkan segera direalisasikan pemerintah, karena jika Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla tidak memenuhi tuntutan tersebut, eskalasi aksi buruh akan terus membesar hingga puncaknya pada 1 Mei 2018 dalam peringatan May Day.

“Aksi 6 Februari bukanlah aksi yang pertama dan terakhir. Jika Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla tidak memenuhi tuntutan buruh, kami pastikan eskalasi aksi buruh akan terus membesar hingga puncaknya pada 1 Mei 2018 dalam peringatan May Day,” ucap Said.

KOMENTAR ANDA