08121026237 - 081280589457   679B873

Ahok Gubernur, Pembangunan Berlangsung Cepat dan Koruptor Bertekuk Lutut

 Oleh : Mochtar Siahaan | Rabu, 10 Mei 2017 - 14.32 WIB | Dibaca : 688 kali
 Ahok Gubernur, Pembangunan Berlangsung Cepat dan Koruptor Bertekuk Lutut
Ahok tidak hanya melakukan pembangunan dan mencegah terjadinya korupsi, Gubernur DKI Jakarta yang kini meringkuk di penjara karena proses peradilan sangat buruk itu, juga mensejahterakan pegawai Pemda DKI Jakarta.

 

Sondinews. Dalam sejarah Pemerintah DKI Jakarta, baru setelah Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok pembangunan di Ibukota berlangsung pesat dan tampak secara nyata. Tidak hanya pembangunan, para koruptor dibuat bertekuk lutut. Oleh karenanya, mantan Bupati Bangka Belitung itu diserang berbagai kelompok masyarakat, baik oleh eksekutif, legislator, ormas-ormas dan tokoh-tokoh politik.

Ahok tidak hanya melakukan pembangunan dan mencegah terjadinya korupsi, Gubernur DKI Jakarta yang kini meringkuk di penjara karena proses peradilan sangat buruk itu,  juga mensejahterakan pegawai Pemda DKI Jakarta. Warga DKI Jakarta sangat mengapresiasi kinerja Ahok, hanya kelompok radikalisme,anti toleransi dan pendukung koruptor yang tidak memberi apresiasi terhadap kinerjanya.

Kekalahan Ahok – Djarot dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, jelas akibat diserang dengan politik SARA oleh kelompok radikalisme, yang dalam aksi demonya menebarkan rasa ketakutan dan kebencian. Kelompok radikalisme yang merasa paling berkuasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) ini, seenaknya saja menyerangan dan menghujat Ahok.

Kelompok radikalisme itu, dalam aksi demonya tidak hanya sekedar menyerang Ahok, juga mencederai perasaan kelompok minoritas di negeri ini. Mereka dengan arogannya mengkafirkan orang. Peradilan Ahok terus menerus mereka tekan melalui aksi demo agar Gubernur DKI Jakarta itu dijatuhi hukuman seberat-beratnya oleh majelis hakim.

Ironinya, tokoh sentral penggerak aksi demo anti Ahok selama ini,Habib Riziq Shyhab,meskipun sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam dua kasus pidana, yakni di Polda Metro Jaya dan Polda Jawa Barat, selain itu masih banyak kasusnya yang belum diproses, nyatanya sampai detik ini belum ditahan alias bebas berkeliaran ke mana saja.

Kelompok minoritas kini hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya saja, apakah di Negara yang berideologi Pancasila ini masih ada keadilan. Apakah kelompok radikalisme yang menebarkan rasa ketakutan dan kebencian akan terus dibiarkan mencederai perasaan kelompok minoritas tanpa diminta pertanggungjawabannya secara hokum ?

Masihkah negara ini sebagai Negara hukum, Negara demokrasi, Negara berideologi Pancasila dan Negara yang mempertahankan kebhinekaan. Sebab apa yang dilakukan kelompok radikalisme yang menyerang Ahok telah melukai hatinurani rakyat Indonesia, tidak hanya warga DKI Jakarta, juga masyarakat Indonesia yang tersebar di seantero nusantara, bahkan masyarakat yang berada di luar negeri.

Setelah majelis hakim memvonis Ahok dengan hukuman 2 tahun penjara dan langsung dijebloskan ke penjara, masyarakat Indonesia menangis. Dunia menyoroti vonis tersebut. Mengapa ? Karena vonis tersebut dinilai tidak adil. Ahok kini sebagai lambing korban ketidak adilan.

 

 

KOMENTAR ANDA