08121026237 - 081280589457   679B873

Menang Referendum, Tayyip Erdogan Akan Temui Donald Trump

 Oleh : Mochtar Siahaan | Kamis, 20 April 2017 - 06.10 WIB | Dibaca : 447 kali
Menang Referendum, Tayyip Erdogan Akan Temui Donald Trump
Turki berharap bisa meningkatkan kedekatan dengan AS di era pemerintahan Trump. Sebelumnya, hubungan bilateral Ankara-Washington sempat merenggang akibat dukungan NATO terhadap keputusan Obama.

 

Sondinews.  -  Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akan bertemu Donald Trump, bulan depan. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu di Ankara, Rabu (19/4).

“Kami akan menentukan tanggal yang sesuai untuk kedua presiden bulan depan, sebelum Konferensi NATO,” kata Cavusoglu, seperti dilaporkan AFP.

Konferensi Tingkat Tinggi NATO akan digelar akhir Mei di Brussels dan Trump dijadwalkan hadir. Cavusoglu tidak menjelaskan lebih lanjut apakah pertemuan itu akan dilakukan sejalan dengan konferensi NATO atau di lokasi lain.

Usai kemenangan tipis Erdogan di referendum konstitusi, Minggu (16/4) lalu, yang memastikan perluasan kekuasaan eksekutif presiden, Trump langsung mengucapkan selamat.

Di sisi lain, pemerintah negara Uni Eropa lainnya justru bungkam atas kemenangan itu.

Cavusoglu mengatakan selain mengucapkan selamat, Trump dan Erdogan juga mengutarakan keinginan serupa untuk bertemu di Washington dan membahas ‘hubungan bilateral kedua negara’.

Turki berharap bisa meningkatkan kedekatan dengan AS di era pemerintahan Trump. Sebelumnya, hubungan bilateral Ankara-Washington sempat merenggang akibat dukungan NATO terhadap keputusan Obama yang memihak Suriah serta polemik ekstradisi Fethullah Gulen.

Gulen dituding memerintahkan kudeta yang gagal, Juli lalu dan Ankara telah berulang kali menyerukan ekstradisi. Adapun, ulama terkenal itu membantah tudingan kudeta tersebut.

Bulan lalu, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengadakan kunjungan ke Turki. Tillerson bertemu dengan pejabat tinggi Turki dan mendiskusikan perang sipil Suriah serta perang melawan ISIS.

AS percaya bahwa militan Kurdi adalah pasukan yang paling efektif membasmi ISIS di Suriah, namun Ankara mengklaim bahwa militan Kurdi adalah teroris yang kerap memicu pemberontakan melawan pemerintah.

Perbedaan pendapat itu membuat hubungan AS-Turki mendingin dan menimbulkan pertanyaan akankah Turki membantu AS menghalu ISIS dari Raqa.

Namun, dalam wawancaranya dengan CNN, Erdogan menyebut dia antusias dengan pemerintahan AS yang baru, terlebih setelah jarak Turki dengan Uni Eropa semakin jauh.

“Cara Presiden Trump menangani masalah membuat kami gembira,” kata Erdogan. “Kami bisa menyelesaikan masalah penting. Tidak akan ada masalah disitu.”

KOMENTAR ANDA