08121026237 - 081280589457   679B873

Dalam Kasus Ahok, Majelis Hakim Jangan Kalah Dengan Demonstran

 Oleh : Mochtar Siahaan | Selasa, 13 Desember 2016 - 16.17 WIB | Dibaca : 533 kali
Dalam Kasus Ahok, Majelis Hakim Jangan Kalah Dengan Demonstran
Terlepas adanya aksi demo massa bernuansa SARA tersebut, kita berharap Majelis hakim tetap teguh dalam menjalankan profesinya sebagai hakim.

 

Sondinews. -  Hari ini Selasa 13 Desember 2016 sidang perkara penistaan agama yang didakwakan terhadap Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok di gelar oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Sidang pertama yang digelar di gedung lama Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, itu diwarnai aksi demo oleh ratusan massa anggota Ormas Islam, diantaranya dari Fron Pembela Islam ( FPI ). Massa tidak hanya sekedar datang untuk mengikuti jalannya sidang, mereka membawa spanduk menuntut Ahok dihukum dan dipenjarakan,

Massa juga melakukan orasi secara bergantian dengan menggunakan pengeras suara di depan gedung pengadilan. Selain itu terdengar yel-yel massa. Hukum Ahok, hukum Ahok , penjarakan Ahok, begitu yel-yel massa. Sementara massa Islam memadati ruang p[ersidangan, Begitulah suasana sidang pertama kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok.  

Kasus Ahok ini memang menjadi perhatian rakyat di seantero nusantara, bahkan menjadi perhatian nasyarakat dunia mengingat sidangnya disiarkan langsung oleh berbagai stasiun televisi.  Artinya sidang kasus Ahok ini tidak hanya diperhatikan oleh jutaan atau ratusan juta pasang mata orang, mungkin milkiaran pasang mata kini memperhatikan.

Pertanyaannya sekarang, apakah majelis hakim dalam perkara ini nanti dapat mengambil keputusan dengan adil tanpa terpengaruh oleh tekanan masa pendemo dari ormas Islam ? Pertanyaan itu kita ajukan, mengingat sejak dari awal kasus ini mendapat tekanan massa Islam melalui aksi demo oleh kelompok yang menamakan dirinya  Gerakan Nasional Pengawal Fatwa  ( GNPF ) Majelis Ulama Indonesia ( MUI ), yang dikomandoi Ketua Umum FPI, Habib Rizieq Shihab.

Di mana dampak dari tekanan aksi demo bernuansa SARA itu, proses penangan perkara Ahok termasuk super cepat. Proses perkaranya menjadi super cepat jelas karena dampak  aksi demo 4 November dan 2 Desember 2016. Banyak celah yang mengundang pertanyaan, diantaranya tidak bulatnya suara penyidik di kepolisian dalam penetapan Ahok sebagai tersangka.

Belum lagi sidang pertama sudah diwarnai aksi demo ratusan massa dari kelompok Islam dengan membawa spanduk  yang menuntut Ahok ditangkap dan dipenjarakan. Selain itu massa melakukan orasi secara bergantian dengan menggunakan pengeras suara di depan  gedung pengadilan. Dengan adanya  aksi massa itu, termasuk  aksi demo 4 November dan 2 Desember 2016, mungkinkah  persidangan kasus Ahok berjalan adil.Apabila nanti fakta dipersidangan menyatakan Ahok tidak bersalah, apakah majelis hakim berani mengambil keputusan yang bertentangan dengan tuntutan demonstran dari kelompok Islam ?

Terlepas adanya aksi demo massa bernuansa SARA tersebut, kita berharap Majelis hakim tetap teguh dalam menjalankan profesinya sebagai hakim, jangan terpengaruh oleh tekanan demonstran. Apabila nanti fakta persidangan Ahok memang melakukan penistaan agama, jatuhkan hukuman padanya sesuai dengan perbuatannya. Akan tetapi apabila fakta dipersidangan menyatakan Ahok tidak bersalah, majelis hakim harus berani membebaskan Ahok dari segala dakwaan dan tuntutan hukum. Majelis hakim harus mempertimbangkan rasa keadilan ratusan juta rakyat Indonesia. Selain itu juga harus menjaga citra penegakan hukum di Indonesia, mengingat kasus Ahok ini menjadi perhatian masyarakat dunia.

Jangan hanya karena tekanan sekelompok massa majelis hakim takut menegakan keadilan. Keadilan harus ditegakkan, ratusan rakyat Indonesia memperhatikan kasus ini dan menunggu keputusan yang seadil-adilnya dalam kasus Ahok. Oleh karenanya majelis hakim tidak perlu terpengaruh atau takut mengambil keputusan dalam kasus ini. Hukum tidak boleh kalah dengan  demonstran. ( Penulis Mochtar Siahaan, Mantan Pemimpin Redaksi Haria Jakarta ).

KOMENTAR ANDA