08121026237 - 081280589457   679B873

Presiden China Xi Jinping Ajak Donald Trump Kerja Sama

 Oleh : Mochtar Siahaan | Selasa, 15 November 2016 - 11.48 WIB | Dibaca : 839 kali
Presiden China Xi Jinping Ajak Donald Trump Kerja Sama
Melalui sambungan telepon, Xi mengajak taipan real-estate itu untuk bekerja sama demi terciptanya hubungan baik antara kedua negara.

 

Sondinews.  -  Presiden China Xi Jinping komunikasi secara perdana dan mengucapkan selamat kepada presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, pada akhir pekan lalu. Melalui sambungan telepon, Xi mengajak taipan real-estate itu untuk bekerja sama demi terciptanya hubungan baik antara kedua negara, terlepas dari berbagai retorika Trump selama masa kampanye yang menyebutkan China merugikan ekonomi AS.

CNN melaporkan, mengutip media pemerintah China, bahwa kedua tokoh itu berkomunikasi di tengah hubungan diplomatik antar China-AS "yang terus berkembang dan membawa manfaat nyata bagi rakyat pada kedua negara dan juga mempromosikan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kancah dunia."

Dalam percakapan itu, Xi juga menekankan pentingnya kerja sama di berbagai bidang antar kedua negara, sementara Trump disebut sependapat dengan Xi terkait hubungan Sino-AS. "China adalah negara besar dan penting. Perkembangan China sangat luar biasa," tutur Trump dalam kutipan artikel media pemerintah China.

Laporan itu juga memaparkan pernyataan Trump soal hubungan AS-China yang dapat menguntungan kedua negara. "Saya yakin hubungan Sino-AS akan lebih baik lagi di masa depan," kata Trump.

Pernyataan singkat yang dirilis tim transisi Trump mengonfirmasi bahwa kedua tokoh ini telah berbincang melalui telepon, guna menerapakan sikap saling menghargai sebagai sesama pemimpin negara. Kepada Xi, konglomerat asal New York itu meyakinkan bahwa kedua negara akan memiliki hubungan yang lebih kuat di masa depan.

Sikap Trump yang tertulis dalam laporan media China itu kontradiktif dengan retorikanya selama masa kampanye. Pasalnya, Trump kerap kali menyebutkan bahwa Negara Tirai Bambu itu telah banyak merugikan ekonomi AS.

Pada kampanyenya di Fort Wayne, Indiana, pada April lalu misalnya, Trump mengatakan bahwa China telah "memperkosa" Amerika Serikat dengan kebijakan ekonominya yang merugikan.

Trump dalam pidatonya menuduh China telah memanipulasi nilai mata uang untuk membuat ekspor mereka lebih kompetitif di pasar global. Menurut Trump, China telah "membunuh" perdagangan Amerika.

Demi menghidupkan sektor perdagangan di AS, Trump bahkan berencana menaikkan tarif impor barang yang berasal dari negara-negara yang selama ini menjadi partner dagang terbesar AS, salah satunya China dengan mengusulkan, kenaikkan tarif sebesar 45 persen untuk barang-barang yang berasal dari negara tersebut.

Rencana kenaikan tarif perdagangan kepada China tersebut dinilai dapat mengancam hubungan perdagangan antar kedua negara yang mencapai US$650 miliar setiap tahunnya. Pengajuan pengenaan tarif impor kepada China dianggap dapat memicu perang perdagangan internasional.

Dalam hal politik luar negeri, Trump belum menampakan gagasannya untuk menghadapi China terkait isu Laut China Selatan. Beberapa pengamat menyebutkan, fokus kedua pemimpin negara saat ini yang lebih condong pada inward policy atau berfokus pada politik dalam negeri masing-masing negara, dapat memperbesar kesempatan kedua negara untuk berkonsolidasi dalam penyelesaian sengketa di LCS.

KOMENTAR ANDA