08121026237 - 081280589457   679B873

Trump Tuntut Hillary Tutup Yayasan Amalnya

 Oleh : Mochtar Siahaan | Selasa, 23 Agustus 2016 - 07.04 WIB | Dibaca : 628 kali
Trump Tuntut Hillary Tutup Yayasan Amalnya
Tuntutan ini diajukan Trump karena dia menilai yayasan amal itu tak lebih dari sebuah perusahaan yang korup.

 

Sondinews.  -  Calon presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, Senin (22/8/2016), mendesak agar Hillary Clinton menutup yayasan amal yang didirikan suaminya, Bill Clinton.

Tuntutan ini diajukan Trump karena dia menilai yayasan amal itu tak lebih dari sebuah perusahaan yang korup.

"Pasangan Clinton selama berpuluh tahun memelihara para donor ketimbang rakyat Amerika," kata Trump.

"Sudah sangat jelas sekarang bahwa Yayasan Clinton adalah perusahaan paling korup dalam sejarah politik," lanjut Trump mengecam lembaga yang sudah mengumpulkan dana lebih dari 2 miliar dolar AS sejak didirikan pada 2001.

"Yayasan itu harus ditutup sesegera mungkin," Trump menegaskan.

Dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Fox News, Trump mengatakan, yayasan tersebut menerima kontribusi pendanaan dari berbagai negara.

"Beberapa negara itu juga mendiskriminasi perempuan, gay dan kelompok-kelompok lainnya," tambah Trump.

Pernyataan Trump ini nampaknya ditujukan kepada beberapa negara yang memiliki catatan buruk terkait hak asasi manusia, salah satunya Arab Saudi.

Negeri kaya minyak itu pernah mengucurkan dana cukup besar kepada yayasan tersebut saat Hillary Clinton, rival Trump, menjadi menteri luar negeri di masa pemerintahan Barack Obama periode pertama.

"Maksud saya, uang tersebut harus dikembalikan. Mereka seharusnya tak menerima uang tersebut," ujar Trump.

Yayasan Clinton diketahui menyumbangkan uangnya ke berbagai lokasi di dalam negeri AS dan luar negeri. Pada 2014 yayasan tersebut menyumbangkan uang sebesar 214 juta dolar atau hampir Rp 3 triliun.

Sebuah sistem pemisah seharusnya dibuat untuk memastikan agar dana yayasan ini terpisah dari peran Hillary sebagai menteri luar negeri pada saat itu. Namun, sejumlah kritikus mengatakan, tidak yakin sistem tersebut berjalan dengan cukup baik.   

KOMENTAR ANDA