08121026237 - 081280589457   679B873

Tindakan Sewenang-Wenang 27 Anggota Bareskrim Polri Diadukan Ke Presiden

 Oleh : Mochtar Siahaan | Kamis, 11 Agustus 2016 - 10.54 WIB | Dibaca : 1326 kali
Tindakan Sewenang-Wenang 27 Anggota Bareskrim Polri Diadukan Ke Presiden
Perlakuan ke 27 anggota itu tidak hanya merusak citranya sebagai pengusaha, juga membuat kaburnya calon investor asing yang sebelumnya telah sepakat menginvestasikan dana.

 

Sondinews.  -  Tomy Winata, pengusaha yang selama ini taat hukum dan sangat menghormati pejabat Kepolisian, belum lama ini justru merasa diperlakuan sewenang-wenang oleh 27 anggota Bareskrim Polri. Perlakuan ke 27 anggota itu tidak hanya merusak citranya sebagai pengusaha, juga membuat  kaburnya calon investor asing yang sebelumnya telah sepakat menginvestasikan dana Rp 3 triliun untuk pengolahan makanan berbahan baku ikan di pabrik PT.Maritin Timur Jaya ( PT.MTJ ) di Kawasan Industri Maritim Indonesia ( KIMI).

Kasus ini berawal dari kasus narkoba. Di mana pada 24 Agustus 2015, petugas Direktorat Narkoba Bareskrim Polri menangkap dua Anak Buah Kapal ( ABK ) Fujian Pingtan and Ocean Fishery Co.Ltd (Fujian Fishery), perusahaan asal China rekanan PT.MTJ, yang mengelola KIMI, kawasan berikat berbasis maritin  di Desa Ngadi, Tual, Maluku Tenggara. Kedua ABK yang tertangkap itu, yakni Herry Gandi dan Lim Chandra Sutioso.

Fujian Fishery, perusahaan yang mensuplai ABK dan mengoperasikan kapal-kapal penangkap ikan PT.MTJ. Di mana dalam pengembangan pemeriksaan terhadap kedua ABK itu, penyidik menemukan sejumlah Paspor dari rumah Herry Gandhi di Bandung, dan setelah dilakukan pemeriksaan terungkap adanya permainan suap dalam pembuatan Paspor tersebut dengan  pihak Imigrasi, yang melibatkan Presiden Direktur Fujian Fishery, Lin Web Lu dan salah satu direkturnya bernama Steven.

Dalam kasus ini, baik kedua ABK maupun kedua petinggi Fujian Fishery telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun yang menjadi masalah dan sangat merugikan, kemudian Kepala Bareskrim Polri, ketika itu dijabat Komjen Pol.Budi Waseso mengeluarkan Surat Perintah Tugas untuk melakukan penyelidikan, akan tetapi dalam penyelidikan itu 27 anggota Bareskrim Polri yang diberangkatkan ke kawasan KIMI di Tual, bertindak berlebihan dan sewenang-wenang. Puluhan anggota Bareskrim yang dipimpin Kombes Pol.Jayadi itu, bukannya melakukan penyelidikan sebagai diatur dalam Kitab Undang –Undang Hukum Acara Pidana ( KUHAP ). Mereka melakukan penggeledahan dan mengacak-acak seluruh bangunan milik PT.MTJ yang berada di kawasan berikat itu. Bahkan Villa, tempat Tomy Winata istirahat atau tidur bila bekunjung kesana ikut diacak-acak.

Fujian Fishery memang menyewa salah satu gedung milik PT.MTJ disana, tapi kenapa semua bangunan, gudang dan pabrik PT.MTJ ikut digeleda dan diacak-acak. Bahkan diantara anggota Bareskrim itu ada yang mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak senonoh, di mana seolah-olah kawasan dan Villa tempat tidur Tomy Winata disana sarang narkoba. Sedang hasil penggeledahan pada 6-9 Agustus 2015 itu tidak menemukan barang bukti kejahatan apapun.

Cara ke 27 anggota Bareskrim Polri yang melakukan pengeledahan itu menimbulkan rasa ketakutan terhadap para karyawan, karena caranya kasar dan ada diantaranya mengeluarkan kata-kata kotor yang tidak senono. Sedang penggeledahan dilakukan tanpa mendapat izin atau penetapan dari pengadilan setempat, yakni pengadilan negeri Tual.  Dasar anggota Bareskrim yang dipimpin Kombes Jayadi itu melakukan penggeledahan, surat dar i pengadilan negeri Ambon, yang wilayah hukumnya berbeda.

KOMENTAR ANDA