08121026237 - 081280589457   679B873

KPK Resmi Menahan 4 Anggota DPRD Sumatera Utara

 Oleh : M Harahap | Selasa, 10 November 2015 - 20.26 WIB | Dibaca : 410 kali
KPK Resmi Menahan 4 Anggota DPRD Sumatera Utara
Keempatnya, adalah Saleh Bangun, Chaidir Ritonga, Ajib Shah, dan Sigit Pramono Asri.

 

Sondinews. - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), resmi menahan empat anggota DPRD Sumatera Utara (Sumut) periode 2009-2014, usai diperiksa sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemberian gratifikasi, terkait persetujuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta pembatalan hak interpelasi, Selasa (10/11).

Keempatnya, adalah Saleh Bangun (SB), Chaidir Ritonga (CHR), Ajib Shah (AJS), dan Sigit Pramono Asri (SPA). Penahanan dilakukan untuk 20 hari ke depan terhitung mulai Selasa (11/11) untuk mempermudah proses penyidikan.

Keempatnya ditahan di beberapa Rumah Tahanan (Rutan) berbeda. “Tersangka SB ditahan di Rutan Polres Jakarta Selatan, CHR ditahan di Rutan Polda Metro Jaya, AJS ditahan di Rutan Klas I Salemba Jakarta Pusat dan SPA di Rutan Polres Jakarta Pusat,” kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati saat dikonfirmasi di Gedung KPK, Jalan HR RAsuna Said, Kuningan, Jakarta, Selasa (11/11).

Sebelumnya, KPK telah lebihu menetapkan keempatnya sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemberian gratifikasi, terkait persetujuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta pembatalan hak interpelasi. Keempatnya diduga menerima gratifikasi dari Gubernur Sumatera Utara (Sumut) nonaktif, Gatot Pujo Nugroho.

Dalam kasus ini,Gatot diduga sebagai pemberi gratifikasi kepada Saleh Bangun (SB), selaku ketua DPRD periode2009-2014; Chaidir Ritonga (CHR), selaku Wakil ketua DPRD periode 2009-2014; serta Ajib Shah (AJS), selaku anggota DPRD periode 2009-2014, berkaitan persetujaan laporan pertangung-jawaban untuk anggaran 2012-2014. Kemudian persetujuan anggaran pendapatan dan belanja daerah tahun anggaran 2013-2014. Lalu pengesahan APBD 2013-2014 kemudian 2014-2015. Terakhir, adalah penggunakan atau penolakan hak interplasi di Provinsi Sumut 2015.

Sementara untuk Sigit Pramono Asri (SPA) diduga menerima gratifikasi dari Gatot, berkaitan persetujuan laporan pertanggung-jawaban 2012. Kemudian persetujuan perubahan APBD tahun anggaran 2013. Lalu pengesahan APBD tahun anggaran 2014, serta pengesahan APBD tahun anggaran 2015.

Dalam kasus ini, KPK sebenarnya telah menetapkan tersangka lainnya, yakni Kamaludin Harahap (KH), selaku wakil ketua DPRD periode 2009-2014. Namun Kamaludin Harahap (KH) tidak datang memenuhi panggilan KPK untuk menjalani pemeriksaan. “Yang bersangkutan tidak datang untuk diperiksa.

Belum ada konfirmasi dari yang bersangkutan terkait alasan ketirakhadirannya. Akan dijadwal ulang pemeriksaan kepada Yang bersangkutan untuk waktu yang belum ditentukan,” jelas Yuyuk

ketika ditanya terkait ketidakhadiran Kamaludin Harahap dalam pemeriksaan, Selasa (10/11). Terhadap perkara yang disebut diatas, keempat anggota DPRD Sumut periode 2009-2014, diduga sebagai penerima gratitikasi. Keempatnya disangka melanggar pasal 12 huruf a atau b atau pasal 11 uu 31/1999 sebagaimana diubah 20/2001 jo pasal 64 ayat 1 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana. Sebelumnya, keempatnya sudah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka selama hampir sepuluh jam, sejak Selasa (10/11) pagi.

Saleh Bangun (SB) keluar lebih dulu pada sekira pukul 18.56 WIB dengan rompi tahanan berwarna oranye, menuju Rutan Polres Jakarta Selatan. Tidak lama berselang, giliran Ajib Shah (AJS) menuju Rutan Klas I Salemba Jakarta Pusat, disusul Chaidir Ritonga (CHR) yang dibawa ke Rutan Polda Metro Jaya.Terakhir, adalah Sigit Pramono Asri (SPA) yang akan menghuni Rutan Polres Jakarta Pusat.

Sementara Gatot yang diduga sebagai pemberi gratifikasi dalam kasus ini, disangka melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau pasal 13 UU nomor 31/1999sebagaimana diubah 20/2001 jo pasal 64 ayat 1 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana. Selama ini Gatot sudah menjadi penghuni Rutan Guntur, Jakarta.

Sebelumnya, KPK telah menetapkan Gatot sebagai tersangka dalam dua kasus berbeda. Ia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap Hakim dan Panitra PTUN Medan. Kemudian Gatot bersama istri mudanya, Evy Susanti juga terlibat dalam kasus dugaan suap ‘pengamanan’ dana Bansos di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumut dan atau Kejaksaan Agung (Kejagung). Dua kasus diatas, bahkan sudah dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

KOMENTAR ANDA