08121026237 - 081280589457   679B873

Tito Karnavian Seorang Dicision Maker Genius Yang Pekerja Keras

 Oleh : Mochtar Siahaan | Jumat, 30 Oktober 2015 - 13.20 WIB | Dibaca : 907 kali
Tito Karnavian Seorang  Dicision Maker  Genius Yang  Pekerja Keras
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs. Muhammad Tito Karnavian M.A. Ph.D

 

Sondinews. Berbagai prestasi  telah diukir Muhammad Tito Karnavian  sejak masih menyandang pangkat Komisaris Polisi. Atas prestasi  yang diukirnya itu, tercatat dirinya mendapat penghargaan istimewa, yakni  dua kali  mengalami kenaikan  pangkat luar biasa. 

Jenderal Polisi bintang dua yang  populer dengan sapaan Tito itu, kini kembali  mengukir prestasi gemilang, yang pantas dicatat sebagai  pemecah record dalam pengungkapan kasus yang menarik perhatian publik, yakni kasus teror bom.  Prestasinya itu termasuk  pemecah record  tercepat dalam pengungkapan kasus teror bom  di Indonesia, mungkin juga di dunia.

Sebagaimana telah disiarkan media massa, baik media cetak,  media online dan berbagai stasiun televisi, bahwa hanya  dalam tempo sekitar dua ( 2 ) jam, aksi teror bom di Mal Alam Sutera, Tangerang, Rabu siang 28 Oktober 2015, dapat diungkap dan pelakunya ditangkap.  Tim gabungan yang memburu pelaku teror  bom dipimpinnya  langsung.

Sejak dipromosikan sebagai Kepala Kepolisian Daerah  ( Kapolda ) Metropolitan Jakarta Raya ( Metro Jaya ), Inspektur Jenderal  Polisi Drs. Muhammad Tito Karnavian M.A. Ph.D , dia bekerja keras tanpa mengenal lelah sehingga  stabilitas  keamanan di Ibukota Jakarta dan sekitarnya  cukup stabil dan kondusif. Mantan Kepala Densus 88 Anti Teror Polri  yang diangkat  sebagai Kapolda Metro Jaya berdasarkan TR Kapolri 16 Juli 2015 itu, menurut catatan penulis, banyak membuat  terobosan demi  menjaga stabilitas keamanan di Ibukota Jakarta. Selain pekerja keras, Tito Karnavian adalah seorang decision maker yang genius, dia pengambil keputusan yang berani.

Salah satu contoh keputusannya yang tidak populer, yakni ketika jajarannya diperintahkan "mengandangi" sekitar 2000 orang para pengemar sepakbola yang membuat keributan menjelang pertandingan memperebutkan Piala Presiden di lapangan sepakbola Gelora Bung Karno ( GBK ), Senayan, Jakarta. Perintah itu dikeluarkan tentu untuk melindungan masyarakat dari ancaman bahaya keselamatannya dan terciptanya stabilitas keamanan, sehingga kejuaraan sepakbola yang juga ditonton oleh Presiden Joko Widodo itu dapat terselenggara dengan aman.  Selain itu tentu baginya, Kota Metropolitan Jakarta  sebagai Ibukota Negara dan Pusat pemerintahan, senantiasa  harus tercipta  aman dan stabilitas keamanannya tetap terjaga. 

Sementara itu terobosan yang dilakukannya, yakni melalui diskusi-diskusi  dengan berbagai elemen masyarakat, yang diselenggarakannya setiap hari Rabu. Dalam acara diskusi yang diberi nama  Coffee Break itu, Tito melibatkan para pakar dari berbagai disiplin ilmu, pejabat dari berbagai instansi pemerintah, tokoh-tokoh Serikat Buruh , tokoh Ormas dan  tokoh agama. Berbagai masalah yang menjadi  perhatian publik,  pada acara diskusi itu dibahas secara mendalam. Demikian halnya  berbagai masalah  yang diprediksi bisa muncul dan dapat mengancam stabilitas keamanan, juga dibahas tuntas. Ternyata  dari semua topik yang dibahas,  sangat  bermamfaat untuk mencegah terjadinya   ancaman terhadap keamanan.

Melalui acara Coffee Break yang digelar di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, itu Tito Karnavian menggalang hubungan dan menanamkan rasa kekeluargaan, terutama terhadap tokoh-tokoh buruh dan tokoh Ormas  yang sering melakukan aksi demonstrasi atau unjuk rasa. Hasilnya terbukti, sejak dia menjabat Kapolda Metro, nyaris tidak pernah lagi terdengar adanya aksi demo atau unjuk rasa kaum buruh  yang anarkis. Demikian  halnya aksi demo kalangan ormas dan Ormas keagamaan , tidak ada lagi yang anarkis.

Bahkan melalui inovasi dan terobusan yang dilakukan Tito Karnavian, rencana unjuk rasa karyawan pintu tol yang tergabung dalam serikat buruh PT. Jalantol  Lingkarluar Jakarta  ( PT.JLJ  ) pada 28 s/d 30 Oktober 2015 dapat dibatalkan dengan win-win solution.

Batalnya unjuk rasa karyawan pintu tol dengan mogok kerja massal selama tiga hari, terwujud berkat mediasi yang dilakukan Irjen Pol. Muhammad Tito Karnavian. Mediasi yang dilakukannya, antara karyawan yang  diwakili Serikat Pekerja PT.JLJ dengan PT.Jasa Marga disepakati untuk menyelesaikan sengketa diantara mereka akan ditempuh melalui  Tri Partit, dengan masa waktu satu bulan.

Selain itu sekitar 300-an karyawan pintu tol yang terancam kehilangan pekerjaan  karena masa kontrak kerjanya berakhir,  disepakati oleh PT. Jasa Marga tetap dipekerjakan dan tidak akan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada  karyawan pintu tol yang statusnya kontrak.

Atas kesepakatan itu, pihak karyawan yang diwakili pengurus Serikat Pekerja PT.JLJ dengan sukarela bersedia membatalkan rencana mogok kerja massalnya. Dengan kata lain, berkat mediasi yang diprakarsai Irjen Pol. Tito Karnavian, masalah yang krusial dan bisa mengancam stabilitas keamanan, dapat diselesaikan dengan win-win solution.  Semua pihak yang bersengketa, termasuk jajaran aparat keamaman menerimanya dengan senang. Begitulah antara lain terobos yang dilakukan mantan Kapolda Papua itu dengan menjaga stabilitas keamanan di Ibukota Jakarta. 

Lulusan Akademi Kepolisian  ( Akpol  ) yang  mendapat penghargaan Adhi Makayasa tahun 1997 itu, tidak pernah melarang pihak manapun atau kelompok manapun melakukan unjuk rasa atau demo. Justru unjuk rasa itu dinilainya sebagai  kontrol  yang baik  bagi pemerintah,  penyelenggara  negara,  kontrol  bagi semua institusi negara, termasuk kontrol terhadap institusi Polri.

Unjuk rasa untuk menyampaikan pendapat di muka umum  telah diatur dalam Undang-Undang.  Polri sebagai aparat keamanan , menurut Jenderal Tito Karnavian, justru harus mengawal peserta  unjuk rasa  agar tidak mendapat gangguan dari pihak lain. Namun selalu diingatkannya kepada penanggungjawab aksi dan  Koordinator-koordinator aksi demo di lapangan, agar aksi demo atau unjuk rasa dilakukan  tertib, tidak mengganggu Hak Asasi orang lain, tidak anarkis dan tidak merusak fasilitas umum. Akan tetapi, apabila anarkis , mengganggu hak asasi orang lain dan merusak fasilitas umum, Polri harus melakukan tindakan hukum demi menjamin keamanan masyarakat .  Begitu selalu disampaikan Kapolda Metro Jaya kepada tokoh-tokoh aksi  unjuk rasa yang diundangnya berdiskusi di Mapolda Metro Jaya.

Tito Karnavian, dalam upayanya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat di Ibukota Jakarta dan sekitarnya, selalu mengedepankan  pendekatan kerayatan, bukan  dengan pendekatan kekuasaan.  Oleh karena itu, menurut catatan penulis, tokoh-tokoh demonstran, terutama dari kalangan buruh dan ormas keagamaan,  hubungannya terjalin dengan baik. ( Penulis Mochtar Siahaan, mantan Pemimpin Redaksi Harian Batavia, Harian Media Batavia, Jakarta, Harian National News )

 

KOMENTAR ANDA