08121026237 - 081280589457   679B873

Penerbangan Murah, Dimulai dari Pramugari Seksi

 Oleh : Redaksi | Minggu, 23 Februari 2014 - 05.01 WIB | Dibaca : 3371 kali
Penerbangan Murah, Dimulai dari Pramugari Seksi
Jakarta -Revolusi dunia penerbangan itu bernama penerbangan yang dioperasikan maskapai bertarif murah—lebih dikenal dengan istilah low cost carrier (LCC). Revolusi dimulai di Dallas, Texas, Amerika Serikat.

LCC pertama di dunia adalah Southwest Airlines, maskapai lokal terbesar di AS yang berdiri pada 1967. Per Januari lalu, destinasinya sudah mencapai 89 titik, termasuk Puerto Rico, dengan jumlah penerbangan 3.400 per hari.

Tapi tahukah Anda bahwa Southwest Airlines ternyata diawali dengan beberapa kontroversi? Salah satunya adalah soal pemilihan pramugari.

Menurut kisah yang dipaparkan dalam buku Nuts! : Southwest Airlines' Crazy Recipe for Business and Personal Success yang ditulis oleh Freiberg, Kevin dan Jackie Freiberg dan diterbitkan pada 1996, disebutkan bahwa salah satu anggota tim pemilih pramugari adalah orang yang sama yang memilihkan gadis-gadis untuk Majalah Playboy.

Menurut buku itu, pendiri Southwest Airlines, Herb Kelleher, lalu memerintahkan para pramugarinya memakai celana pendek seksi dan sepatu boot saat bertugas. Mereka memang ditampilkan dengan karakter penari, mayoret, dan cheerleader, berkaki jenjang.

Model bisnis dengan penerapan tarif murah kemudian diikuti banyak maskapai. Di AS muncul Virgin America. Lalu 'virus' ini menyebar ke Eropa melalui Ryanair dan Easyjet dari Inggris. Semuanya terjadi pada era 1990-an.

Di Asia, penerbangan bertarif murah menancapkan kukunya sejak tahun 2000. AirAsia yang berasal dari Malaysia bangkit menjadi juaranya. Berikutnya disusul oleh kelahiran Tiger Airways dan Singapura dan Jetstar dari Australia.

Di Asia Tenggara, penerbangan bertarif murah sudah menjadi fenomena. Penerbangan macam ini dilayani oleh 23 maskapai atau 31 persen dari total keseluruhan penerbangan komersil di kawasan tersebut. Pada tahun ini, penerbangan tarif murah diprediksi akan mencapai sepertiga dari total penerbangan di Asia Tenggara.

Kehadiran maskapai bertarif murah jelas telah mendorong pertumbuhan industri penerbangan global. Karenanya angka kebutuhan pesawat terbang meningkat secara signifikan. Bagaimana ramalan industri ini dalam dua dekade ke depan? Simak infografis berikut:

KOMENTAR ANDA